Jeritan Petani Desa Kelubir: Jalan Rusak, Pupuk Langka, Hasil Panen Sulit Terjual Meski Sudah Berjuang Keras

BULUNGAN,— Di sebuah balai adat sederhana di Desa Kelubir, Kecamatan Tanjung Palas Utara, suara para petani terdengar lebih berat dari biasanya. Pada Selasa, 12 April 2026, mereka berkumpul dalam kegiatan rembug tani dan updating data kelompok tani, bukan sekadar untuk formalitas, tetapi membawa keresahan yang telah lama mereka pendam.


Di hadapan perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan, aparat desa, serta unsur TNI-Polri, para petani satu per satu menyampaikan keluhan yang menggambarkan kerasnya perjuangan mereka di lapangan. Bukan hanya soal bercocok tanam, tetapi tentang bertahan hidup di tengah berbagai keterbatasan.


Jalan tani yang rusak menjadi keluhan utama. Akses yang seharusnya menjadi urat nadi distribusi hasil pertanian justru menjadi penghambat. Hasil panen yang sudah susah payah diperoleh, sering kali terhambat untuk keluar dari lahan karena kondisi jalan yang tidak memadai. Dalam diam, jerih payah itu seolah terhenti di tengah jalan.


Belum selesai di situ, persoalan pupuk menambah beban para petani. Mereka mengaku kesulitan mendapatkan pupuk, bukan karena tidak ada, tetapi karena data yang tidak sinkron. Kesalahan administrasi berujung pada kesulitan nyata di lapangan. Tanaman yang seharusnya tumbuh optimal, terancam gagal hanya karena pupuk yang tak kunjung tersedia.


Keterbatasan alat dan mesin pertanian (alsintan) juga menjadi kenyataan pahit yang harus dihadapi. Di saat teknologi pertanian berkembang pesat di berbagai daerah, sebagian petani di Desa Kelubir masih harus mengandalkan cara-cara sederhana dengan hasil yang tidak maksimal.


Namun yang paling memukul adalah ketika hasil panen akhirnya berhasil didapatkan. Harapan untuk memperoleh penghasilan justru kembali diuji. Para petani mengaku kesulitan menjual hasil pertanian mereka. Harga yang tidak stabil, akses pasar yang terbatas, hingga minimnya dukungan distribusi membuat hasil kerja keras mereka kerap tidak sebanding dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan.


Rembug tani yang seharusnya menjadi forum solusi, pada akhirnya juga menjadi ruang curahan hati. Di balik agenda yang tersusun rapi, tersimpan kenyataan bahwa para petani masih bergelut dengan persoalan mendasar yang belum terselesaikan.


Kegiatan yang berakhir pada pukul 12.00 WITA itu berjalan aman dan lancar. Namun bagi para petani, persoalan yang mereka hadapi belum benar-benar usai. Mereka pulang dengan harapan—bahwa suara yang telah disampaikan tidak hanya didengar, tetapi juga benar-benar ditindaklanjuti. (MD)

Bagikan

Berita Terbaru