JEMBRANA,-Di halaman gedung PLUT (Pusat Layanan Usaha Terpadu) KUMKM Jembrana, Sabtu (25/4), suara musik diselingi gelak tawa komika dan keramaian transaksi kuliner. Tidak ada batasan yang jelas antara panggung dan penonton. Semuanya bersatu dalam satu ruang. Mereka menyebutnya Jembrana Sound Session. Acara ini dirancang sebagai mini showcase untuk menampilkan potensi lintas sektor, namun ambisinya jauh lebih besar dari sekadar pertunjukan. Acara ini bertujuan untuk merangkum denyut ekonomi kreatif yang sedang berkembang di Jembrana, kawasan di barat Bali yang selama ini lebih dikenal sebagai jalur transit daripada destinasi.
Di atas panggung, kelompok musik lokal tampil bergantian, seperti DJ Erick Foe, The Bravas, Birama ft. Deleo, Parama, Mood Brother, Afterteen, Pribumi, hingga Dream of Yesterday. Sementara kelompok Stand Up Indo Jembrana yang diwakili Jebret, Eka, Satria, dan Ahmad Jho, mengisi jeda dengan komedi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di sudut lain, mural dieksekusi langsung oleh Kartel Mural Club, bersebelahan dengan instalasi seni dari Reka Art Studio. Tak jauh dari sana, pengunjung singgah di stan buku kecil yang diinisiasi Bali Tersenyum.
Jembrana Sound Session diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana Bidang Pemasaran dan Ekonomi Kreatif bersama Negara Creative Lab. Format acara ini sederhana, menggabungkan pertunjukan, lokakarya, dan pasar kreatif dalam satu rangkaian. Namun yang menjadi sorotan bukanlah bentuknya, melainkan pendekatannya.
“Ini bukan sekadar tampil, tetapi menciptakan pertemuan,” ujar Usada Kusuma dari Negara Creative Lab. Menurutnya, ruang ini berfungsi sebagai “jahitan” untuk menyatukan potensi-potensi yang selama ini terpisah. Jembrana, tambahnya, memiliki energi kreatif yang besar, dari musik, kriya, seni rupa, hingga kuliner, tetapi seringkali berjalan sendiri-sendiri. “Semua potensi itu kuat. Namun tanpa ruang temu, potensi ini tidak akan pernah menjadi kekuatan kolektif. Kegiatan seperti inilah yang menghubungkannya untuk membuka peluang kolaborasi lintas sektor yang lebih konkret,” tambahnya.
Komunitas Sebagai Aktor Utama
Beberapa kegiatan berlangsung secara paralel. Workshop Street and Stage Photography digelar Komunitas Fotografi Jembrana (KFJ). Jembrana Drum Community mengadakan sesi coaching clinic. Program e-Sport berlangsung melalui kolaborasi dengan Komunitas e-Sport Jembrana. Sementara itu, sesi diskusi menghadirkan Pohon Tua, seorang produser musik sekaligus anggota Navicula dan Dialog Dini Hari, yang berbagi tentang proses kreatif dan perjalanan bermusiknya.
“Saya memiliki studio profesional di Denpasar dan siap mendukung band-band dari Jembrana yang telah terkurasi,” ujarnya. Sebuah band, tambahnya, tidak hanya sekadar bermain musik, tetapi harus mampu membangun koneksi. Terlebih lagi, saat ini lebih mudah berkat adanya media sosial. “Buatlah ‘seberisik’ mungkin di media sosial. Hidupkan kembali studio musik, tampil di banyak gigs di berbagai lokasi,” ucapnya.
Tidak semua peserta hadir sebagai penampil. Sebagian datang sebagai pelaku usaha. Stan kuliner diisi oleh UMKM lokal, sementara produk kriya dan fesyen lokal juga dipamerkan, termasuk olahan limbah plastik dari Reconcre, busana dari Negara Independent Clothing (NIC), hingga kain endek produksi Ani Gallery. Di sinilah acara ini mulai melampaui fungsi hiburan.
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Jembrana memberikan perhatian lebih pada ekonomi kreatif sebagai salah satu arah pembangunan. Sektor ini dianggap memiliki keunggulan karena berbasis sumber daya lokal, fleksibel, dan mampu menyerap tenaga kerja.
Bupati Jembrana, Kembang Hartawan, menegaskan ekonomi kreatif telah menjadi salah satu program unggulan daerah. “Ini bukan lagi wacana, tetapi mandat yang harus dijalankan bersama,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah akan merealisasikan Jembrana Creative Hub untuk meningkatkan keterampilan dan kapasitas pelaku, sekaligus menyediakan ruang ekspresi dan wadah kolaborasi bagi berbagai potensi kreativitas di Jembrana. Puncak dari seluruh potensi tersebut, lanjutnya, akan bermuara pada Jembrana Creative Festival. “Kami akan mewujudkannya tahun ini,” tegasnya.
Di sisi lain, Wakil Bupati Patriana Krisna berharap kegiatan seperti Jembrana Sound Session dapat terus konsisten dalam menumbuhkan kreativitas anak muda sekaligus memberi dampak ekonomi. Ia menilai aktivasi semacam ini penting sebagai ruang kolaborasi lintas potensi. “Semoga ke depan semakin banyak komunitas yang tumbuh dan terlibat dalam acara-acara seperti ini,” ujarnya.
Kelompok Ahli Bupati Jembrana Bidang Ekonomi dan Infrastruktur, Wena Wahyudi, melihat Jembrana Sound Session sebagai bagian dari upaya menghidupkan kota, sekaligus embrio pengembangan ekosistem ekonomi kreatif di Bali Barat. Menurutnya, kegiatan ini menjadi cara untuk “menyuntikkan nyawa” agar kota memiliki denyut kreativitas yang tumbuh konsisten. “Pelaku kreatif dapat berdaya, produktif, dan terus berkarya. Dari sini, simpul-simpul kreativitas akan terus hidup dan saling terhubung,” katanya.
Lebih jauh, ia menyebut Jembrana Sound Session adalah bagian orkestrasi besar Pembangunan ekonomi baru berbasis kreativitas di Bali Barat. Integrasi antara Jembrana Creative Hub sebagai rumah para kreator dan PLUT sebagai mesin inkubasi bisnis menjadi kunci agar talenta lokal tidak hanya mampu berkarya, tetapi juga menghasilkan produk naik kelas dan berdaya saing. “Kita ingin simpul-simpul kreatif ini terhubung secara berkelanjutan,” ujarnya.
Meskipun skalanya masih terbatas, dampak langsung sudah mulai terasa. Aktivitas ekonomi terus bergerak selama acara berlangsung. UMKM mendapatkan ruang untuk berjualan, komunitas memperoleh audiens baru, dan talenta lokal mendapatkan panggung. Namun yang lebih penting adalah konsistensi dan efek jangka panjangnya.
Di tingkat eksekusi, Komite Inovasi dan Ekonomi Kreatif Jembrana akan dibentuk sebagai akselerator untuk mengorkestrasi kolaborasi antara komunitas, pemerintah, media, sektor keuangan, akademisi, dan pelaku usaha. Model yang dibangun lebih mengarah pada kerja kolektif dan bersinergi.
Reka Biantara, salah satu anggota komunitas, menyebut acara ini sebagai kebutuhan ekosistem kreatif. “Terima kasih untuk ruang seperti ini. Harapannya bisa sering dilakukan dan tidak berhenti di satu momentum. Yang tidak kalah penting, semoga Creative Hub segera terwujud, agar teman-teman komunitas memiliki ‘rumah’ sebagai tempat berkarya, bertemu, dan berkembang,” ujarnya.
Di tengah keramaian, salah satu pengunjung, Alit Tribhuwana, tampak menikmati suasana. Baginya, pengalaman ini memberikan gambaran baru. “Oh, jadi ini kira-kira bayangan jika nanti kita memiliki creative hub,” katanya. Ia juga menyoroti bagaimana ruang seperti PLUT bisa dihidupkan dengan pendekatan kreatif. “Ternyata tempat ini bisa hidup. Mungkin masih banyak titik potensial lain di Jembrana yang bisa dimanfaatkan dengan pendekatan serupa,” tambahnya.
Dengan format yang cair dan tanpa sekat, Jembrana Sound Session menunjukkan bahwa aktivasi kreatif tidak harus selalu besar untuk menarik perhatian. Justru dengan skala yang lebih intim bisa lebih berpotensi menjamin ketersediaan ruang berkelanjutan bagi pelaku ekonomi kreatif untuk tampil, bertemu pasar, dan membangun jaringan.
Jembrana Sound Session memang difungsikan sebagai ruang uji. Di sini, karya-karya dipertontonkan, pasar diuji, dan kolaborasi dibangun. Sebuah proses yang jarang terlihat dalam pembangunan ekonomi konvensional. Di saat ekonomi Bali seringkali hanya berpusat di selatan, Jembrana memilih jalan yang berbeda; tumbuh dari bawah (community-based). Jembrana Sound Session mungkin begitu intim, namun dampaknya masif secara mental. Ini adalah bukti bahwa dengan format yang cair dan tanpa sekat, kreativitas bisa menjadi mesin ekonomi baru
Jembrana Sound Session menjadi salah satu penanda dari perjalanan tersebut. Sebuah ruang kecil dengan banyak cerita dan berbagai kemungkinan yang belum selesai.





