TANJUNG SELOR-Tidak sedikit orang yang bingung dan terluka kala seorang laki-laki dalam hidupnya tiba-tiba menjauh saat sedang menghadapi masalah berat. Komunikasi yang putus, sikap diam, dan menarik diri dari lingkungan sosial seringkali membuat banyak pihak merasa ditinggalkan dan tidak dimengerti. Namun, jika kita mau melihat lebih dalam, ada banyak hal yang tersembunyi di balik sikap tersebut.
Sikap laki-laki menjauh di saat terpuruk erat kaitannya dengan konstruksi sosial dan budaya maskulinitas yang selama ini melekat dalam banyak masyarakat. Laki-laki dianggap harus kuat, mandiri, tak tergoyahkan, dan mampu mengalahkan segala kesulitan tanpa menunjukkan kerentanan. Ekspektasi ini seringkali menjebak dan membatasi ruang ekspresi emosi mereka.
Ketika standar “seharusnya” itu gagal terpenuhi karena situasi hidup yang berat—entah itu kegagalan pekerjaan, masalah keluarga, atau stres berat lainnya—mereka merasa kehilangan identitas yang selama ini menjadi pijakan. Kegagalan itu bukanlah sekadar masalah eksternal, tapi perasaan gagal menjadi diri sendiri yang “ideal”. Hal ini dapat menimbulkan rasa malu yang mendalam dan mendorong mereka untuk menghindar daripada menghadapi realitas tersebut secara terbuka.
Sebagian besar laki-laki tumbuh dengan model pendidikan yang mengajarkan bahwa menangis atau menunjukkan kesedihan adalah kelemahan. Mereka didorong untuk menekan perasaan dan ‘tetap keras’. Akibatnya, ketika sedang menghadapi masalah besar, mereka sering tidak punya cara atau “bahasa” yang sesuai untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya.
Tidak jarang, diam dan menjauh menjadi bentuk mekanisme coping yang dipilih agar terhindar dari konfrontasi atau menghindari perasaan yang sulit diterima. Ini bukan berarti mereka tidak ingin berbagi, tetapi karena ketidakmampuan mengekspresikan diri secara emosional dengan lingkungan sekitar yang mungkin juga belum siap menerima ekspresi tersebut.
Laki-laki yang sedang terpuruk juga sering kali takut mengecewakan orang-orang terdekat. Mereka khawatir jika kondisi “rapuh” mereka diketahui, maka resiko kehilangan penghormatan dan kepercayaan meningkat. Alih-alih menerima dukungan, mereka takut justru akan menjadi beban atau sumber masalah baru bagi keluarga, pasangan, atau sahabatnya.
Akibatnya, mereka memilih menarik diri, berusaha memperbaiki keadaan sendirian dahulu sampai merasa “cukup baik” untuk kembali berinteraksi dengan dunia luar. Namun, langkah menjauh ini sering disalahpahami dan dianggap sebagai sikap putus asa, apatis, atau bahkan penolakan terhadap orang-orang yang peduli.
Salah satu nilai yang dijunjung tinggi oleh banyak laki-laki adalah kemandirian. Mereka berusaha untuk menyelesaikan masalah sendiri agar tidak merepotkan orang lain. Jika diartikan secara sehat, kemandirian memang sebuah sikap positif yang mengajarkan tanggung jawab dan kekuatan diri.
Namun, jika terlalu ekstrem, kemandirian dapat menjadi penghambat untuk mencari dukungan atau bantuan. Dalam kondisi jatuh terpuruk, usaha “membereskan diri sendiri” hingga tuntas sebelum meminta tolong justru bisa memperpanjang penderitaan dan membuat masalah semakin berat. Keseimbangan dibutuhkan agar kemampuan mandiri tidak jadi penghalang untuk berbagi dan menerima pertolongan.
Kerentanan bukanlah kelemahan. Justru dalam kerentanan terdapat ruang bagi kejujuran dan pertumbuhan jiwa. Sayangnya, stigma masculin yang kaku membuat banyak laki-laki takut menunjukkan wajah rapuhnya. Mereka khawatir dianggap lemah dan kehilangan status sehingga memilih menyembunyikan perasaannya.
Pendidikan emosional dan budaya baru yang bisa menerima dan menghargai kerentanan laki-laki sangat diperlukan. Semakin banyak ruang yang tersedia untuk laki-laki mengekspresikan perasaan tanpa takut dikucilkan, semakin besar pula kemungkinan mereka untuk keluar dari masa terpuruk dengan lebih sehat.
Memahami mengapa laki-laki menjauh saat terpuruk adalah langkah awal untuk membangun sikap empati dan dukungan yang efektif. Berikut beberapa pendekatan yang bisa dilakukan oleh keluarga, teman, dan komunitas sekitar:
Jangan memaksa laki-laki berbicara ketika mereka belum siap. Berikan ruang bagi dia untuk menyendiri, tapi tetap hadir dan siap mendengar kapan pun mereka mau berbagi. Sikap sabar dan tenang akan menumbuhkan rasa aman.
Ciptakan lingkungan yang dapat menerima dan menguatkan ekspresi emosi mereka tanpa menghakimi. Pertanyaan terbuka dan ajakan berbicara secara gentle bisa membantu mereka membuka diri.
Keluarga dan teman dapat memberi contoh bagaimana mengekspresikan perasaan secara sehat agar laki-laki tidak merasa sendirian dalam proses belajar mengelola emosi.
Kadang situasi terpuruk memerlukan intervensi psikolog atau konselor. Mendampingi laki-laki agar mau mencoba konseling bisa menjadi jalan keluar yang mendukung perjalanan pemulihan mereka.
Setiap orang mempunyai kecepatan dan cara tersendiri dalam menghadapi kesulitan. Menghormati proses mereka dan menghindari sikap terburu-buru dalam mengharapkan perubahan adalah bentuk dukungan emosional yang penting.
Ketika seorang laki-laki menjauh di saat terjatuh, itu bukan akhir dari kisah atau tanda tidak peduli. Sebaliknya, itu bisa menjadi panggilan bagi kita untuk lebih peka dan mengerti akan pergumulan yang tengah mereka alami. Kesunyian mereka mungkin adalah jeritan batin yang tak terdengar, tangisan yang terpendam, dan perjuangan untuk menemukan jalan keluar dalam kegelapan.
Membuka hati, menyediakan ruang aman bagi laki-laki untuk menyampaikan pergumulannya, serta menghargai tiap proses yang mereka jalani adalah bentuk cinta dan dukungan yang paling bermakna. Dengan demikian, mereka tidak perlu lagi menyendiri dalam luka, tapi dapat menemukan kembali harapan, kekuatan, dan makna dalam hidupnya.
(Bli Made)





