Tanjung Palas Barat, Kaltara – Suasana malam di Desa Long Beluah, Jumat (17/4/2026), tak sekadar sunyi. Di balik gelapnya waktu, dua personel Polsek Tanjung Palas Barat justru bergerak melakukan pendekatan langsung ke masyarakat. Bukan razia, melainkan strategi senyap: merangkul tokoh desa demi mencegah gangguan keamanan sejak dini.
Kegiatan yang dimulai pukul 21.30 WITA ini dipimpin oleh Bripda Yogin dan Bripda Daniel. Mereka menyambangi tokoh masyarakat setempat dalam program Polisi Silaturahmi Masyarakat dan Tokoh, sebuah langkah preventif yang kini mulai digencarkan.
Dalam pertemuan tersebut, aparat tak sekadar berbincang santai. Ada pesan tegas yang disampaikan—bahkan menyentuh isu sensitif yang berpotensi memicu gangguan kamtibmas.
Polisi meminta dukungan masyarakat untuk ikut mengawasi peredaran minuman keras yang kerap menjadi pemicu keributan. Warga diminta tidak ragu melapor jika menemukan aktivitas konsumsi miras yang mengganggu ketertiban.
Tak berhenti di situ, perhatian juga diarahkan pada keberadaan pendatang baru. Warga diminta aktif memberikan informasi kepada pihak kepolisian jika ada orang luar yang tinggal sementara atau menetap. Langkah ini disebut sebagai deteksi dini untuk mencegah potensi ancaman, termasuk kemungkinan keberadaan pelaku kriminal atau residivis.
Kewaspadaan terhadap aktivitas mencurigakan juga ditekankan. Kelompok-kelompok yang dinilai meresahkan diminta segera dilaporkan. Peran RT dihidupkan kembali—setiap tamu wajib lapor 1×24 jam. Sinergi antara tokoh pemuda, tokoh masyarakat, dan tokoh agama pun ditekankan sebagai benteng sosial.
Yang paling mencuri perhatian, aparat secara tegas mengingatkan bahaya penggunaan bom babi dan senjata api rakitan. Warga diminta tidak menggunakan, apalagi menyimpan. Jika ditemukan, laporan ke polisi harus segera dilakukan tanpa kompromi.
Kegiatan berlangsung aman dan penuh keakraban, namun pesan yang ditinggalkan jelas: keamanan bukan hanya tugas polisi, tapi tanggung jawab bersama.
Polsek Tanjung Palas Barat memastikan kegiatan serupa akan terus digelar, terutama di wilayah yang dinilai rawan. Pendekatan humanis dipilih, namun dengan pesan yang tetap tajam tak ada ruang bagi pelanggaran hukum di tengah masyarakat. (MD)





